Kisah Chairul Alumnus Paket C Menuju Universitas Di Yaman

“Assalamualaikum pak, Di Pat Posisi? Nyoe lon Ka Na di Dareh” ( Assalamualaikum Pak dimana posisinya, Ini saya sudah di daerah),” begitu lah bunyi pesan WhatsApp masukΒ di smartphone saya.
Dari kontak tidak ada lagi nama tertera hanya pesan WhatsApp setahun lalu masih tersimpan. Maklum saja, handphone yang saya pegang selama ini ada gangguan di perangkat Android.
“Saya sudah di daerah pak. Kapan kita ngopi?” bunyi pesan masuk selanjutnya.
Saya pun merespon cepatΒ biar terkesan saya masih menyimpanΒ nomor kontaknya. Jurus sok kenal sok dekat pun keluarΒ Β “Baik, Ba’da Jumat kita ngopi ya,” balas ku.
Saya Kembali scroll layar dariΒ rekam pesan WhatsApp lalu. PesanΒ setahunΒ lalu itu ternyata dari salahsatu siswa saya. Namanya Chairul Yuliansyah.
KomunikasiΒ Β terakhir dengan Chairul Tahun 2022. PosisiΒ dia dan saya ketika itu sangat jauh dia sedang berada Di Yaman danΒ sedangkan saya di Aceh.
Jumat Kami pun bertemu dan semeja menyeruput kopi di salahsatu warung di Kecamatan Pante Bidari. Aku memili pesan kopi hitam, Chairul memesan sanger Panas (salah satu menu Kopi Di Aceh ).
“Kopi campur susu sedikit ya,” celetuk Chairul, padahal yang dia maksud adalah sanger.
Cerita pun kami buka dengan bagaimana perkembangan kuliahnya di Yaman. Hampir dua jam lebih kami saling bertukar informasi dan bercerita.Banyak kisah inspiratif dari sosokΒ pemuda asal Gampong Alue Buloh Sa Kecamatan Simpang Ulim Aceh Timur itu.
Chairul merupakan mahasiswa Aceh yang sedang mengenyam pendidikan strata satu di wilayahΒ Tarim, Yaman. Ia kembali ke tanah air lantaran libur panjang semester. Libur ini dimanfaatkan Chairul untuk kembali melepaskan rindu dengan keluarga dan sanak saudara termasuk dengan penulis.
Alumnus sekolah Paket C di PKBM Keluarga Mulia Gampong Alue Mulieng kecamatan Simpang Ulim bernasib baik. Ia lulus diterima di kampusΒ Universitas Al Washatiah. Dia memilih Jurusan Tafsir danΒ ‘ UIumul Qur’an.
Proses menempuh ke kampus itu tidak lah mudah bagi seorang Chairul. Ia salahsatu siswa dari Aceh yang lolos di Kampus bergengsi itu. Sempat minder karena menenteng selembar ijazah paket C dibandingkan teman temannya jebolan sekolah – sekolah formal ternama di Nusantara.
Semangat itu tidak kandas. Karena di Yaman tidak dilihat dari mana asal sekolah siswanya. Tapi yang dilihat dari kuantitas siswanya yang diuji dengan berbagai tes tulis dan wawancara di sana.
Modal besar lainnya Chairul merupakan santri dari Dayah Darul Huda Alue Angen Aceh Utara. Kemampuan Komunikasi bahasa Arabnya di bekal dengan pengalamannya membaca kitab- kitab semasa mondok.Sedang dibandingkan teman lainnya yang merupakan alumni pondok pesantren terpadu di Indonesia danΒ mereka sudah sangat fasih bahasa Arab.
Bahasa sempat menjadi kendala utama bagi Chairul namun dia tidak patah semangat dalam mempertajam kemampuan bahasanya. Di Yaman sendiri hanya dua bahasa yang digunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Chairul kini sudah tuntas menyelesaikan mata kuliah selana dua semester. Hasil predikatnya juga memuaskan. Aturannya hampir mirip dengan Kampus di Indonesia jika nilai – nilai mata kuliah tidak memenuhi bobot maka mahasiswa itu tidak di izinkan melanjutkan semester selanjutnya.
“Jadi tidak heran jika banyak senior kami sudah 6 tahun disana belum tuntas,” ucap Chairul melempar senyum.
Chairul mengakui Yaman tidak membuka jalur beasiswa. Semua kebutuhan di siapkan secara mandiri. Biaya kuliah di sana tergolong murah. Jika dirupiahkan hanya 750.000 perbulannya sudah termasuk biaya makan di Ma’had ( Asrama).
Chairul punya relasi khusus untuk masuk di Universitas itu. Relasi ini tentunya tidak terlepas dari guru- gurunya saat mondok di Aceh. “Jika ada teman – teman berminat melanjutkan pendidikan di sana. Insya Allah kita bisa bantu. Tapi modal penting adalah mampu komunikasi bahasa Arab dan Inggris dan Syarat penting adalah ijazah SMA, dan boleh juga Ijazah Paket C seperti saya,” timpal Chairul.
Penulis : Guru Paket CΒ





