[CERPEN] Pelukan Terakhir

Di ujung jalan, terhampar lautan kota yang tak pernah tidur. Cahaya lampu gemerlapan seolah-olah memperlihatkan betapa jauhnya kampung halaman bagi Ali. Ia adalah seorang pemuda rantauan yang menapaki setiap hari dengan impian dan tanggung jawab yang mengikatnya di kota ini. Tak terasa Ramadhan penuh berkah datang lagi, mengetuk pintu hati Ali dengan kerinduan yang tak terbendung akan kampung halaman dan kedua orang tuanya.
Namun, beda dengan tahun-tahun sebelumnya, rindu tak lagi hanya tertuju pada aroma ketupat dan adzan Maghrib yang melengking di sudut-sudut kampung, tetapi rasa rindu yang tak terbendung akan Mak dan Ayah membuat rasa sesak di dada. Apalah daya, Ali tidak bisa pulang, terhimpit oleh tanggung jawab yang kini membentang lebar di hadapannya.
“Sudahkah kau membeli tiket pulang, Ali?” tanya Mak melalui panggilan video.
“Belum, Mak. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus segera selesai,” jawab Ali dengan suara terbata-bata.
Ali bekerja sebagai insinyur di sebuah perusahaan besar. Tanggung jawabnya membawa dampak besar bagi kelangsungan hidup banyak orang. Dan saat ini, sebuah proyek besar menuntut perhatiannya tanpa ampun.
Hari berganti hari, dan bulan Ramadhan semakin mendekat. Ali masih sibuk dengan pekerjaannya tak kunjung menemukan celah untuk pulang. Setiap malam, ia berdoa agar Allah memberikan kesempatan untuk bertemu keluarganya di hari yang suci.
Pada malam yang penuh doa itu, angin berhembus pelan menyiratkan ketenangan dan kedamaian. Namun, keheningan itu terusik oleh gemuruh yang menderu dari kejauhan. Ali yang sedang sibuk dengan pekerjaan di apartemennya, merasa sesuatu yang tidak biasa.
Ia merasa getaran tanah yang menggetarkan hatinya. Dengan cepat, ia melangkah ke jendela apartemen, dan apa yang dilihatnya membuat bulu kuduknya merinding. Di kejauhan, lampu-lampu kota berkedip-kedip, rumah-rumah bergetar, dan langit malam seolah menelan semua cahaya.
Ali merasakan getaran semakin kuat, mengguncang bumi di bawah kakinya. Namun, di tengah kepanikan dan kekacauan yang melanda, satu hal yang memenuhi pikirannya adalah Mak dan Ayah. Wajah mereka muncul benaknya, senyum hangat yang selalu memberinya kekuatan, pelukan yang penuh kasih setiap kali ia pulang ke kampung halaman. Ali merasakan tangis tertahan di tenggorokannya, memikirkan bagaimana jika ia berakhir tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk terakhir kalinya. Dengan napas yang terengah-engah, ia memusatkan pikirannya pada satu tujuan “bertahan untuk kedua orangtuanya”.
Dalam ketakutan yang melilit, Ali seperti seorang pelari yang terus berlari tanpa henti, menjauhi apartemennya yang terasa seperti pusat kegelapan dan kekhawatiran. Seperti kilat yang membelah langit dalam badai, ia melangkah dengan langkah- langkah yang gesit, memacu dirinya melewati koridor-koridor gelap pikiran yang menghantui, mencari pelarian dari kengerian yang menyergap. Dan di antara gemuruh gempa yang menggetarkan bumi, di balik kegelapan yang mengancam, Ali menemukan sinar harapan yang memandunya untuk tetap bertahan.
Setelah gempa reda, dalam kebingungan dan ketakutan, Ali berusaha keras untuk meraih ponselnya . Dengan tangan gemetar mencoba menekan tombol panggilan dan menelepon Mak dan Ayah. Namun tak satu pun jawaban yang terdengar di seberang sana, hanya dentingan nada panggilan yang menggema kosong di telinganya.
Ali mencoba lagi dan lagi, namun tetap tak ada Β jawaban. Hatinya semakin tercekik oleh kegelisahan. Ia merasa seakan-akan ditarik ke dalam jurang kegelapan yang tak berujung. Benar saja, firasatnya itu ternyata tak salah. Ali mendengar kabar bencana alam dari kampung halamannya melalui layar ponsel dengan getaran yang memilukan.
Suara-suara gemuruh dan tangisan kepanikan di video itu memenuhi telinganya, menciptakan rasa kecemasan yang melumpuhkan. Ia merasakan denyut getaran darurat yang membawa kabar tragis itu, memutuskan segala harapan yang masih tersisa.
Seolah-olah waktu berhenti sejenak, dan dunia di sekitarnya runtuh dalam kehancuran yang tak terduga. Kedua matanya tak bisa menahan air mata yang berlinang deras. Hatinya hancur berkeping-keping, meratap atas kehilangan yang begitu besar. Ia tak bisa membayangkan Ramadhan tanpa doa-doaΒ Β Β orangΒ tuanya, tanpa senyum hangat di akhir puasa, tanpa pelukan yang penuh kasih.
Dengan segera, Ali membeli tiket pulang membawa hati yang hancur dan rasa penyesalan yang mendalam. Di dalam pesawat, ia merenungkan arti kehilangan dan makna Ramadhan yang sejati. Ia menyadari bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, kecuali kasih sayang dan kenangan yang ditinggalkan oleh orang-orang yang kita cintai.
Sesampainya di kampung halaman yang dilanda bencana, Ali disambut oleh puing-puing dan duka yang menggelayuti setiap sudut. Langkahnya terasa berat, diiringi oleh rasa hampa yang memenuhi setiap serat tubuhnya. Dengan hati yang berdegup kencang, ia melangkah di antara reruntuhan, mencari-cari jejak yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.
Tiba di lokasi rumah yang dahulu dipenuhi cinta dan hangatnya pelukan orangtuanya, Ali menemukan hanya puing-puing yang menyisakan kenangan kelam. Tanpa ragu, ia meraba-raba di antara tumpukan kayu dan batu, mencari tanda-tanda kehidupan yang tersisa.
Namun, yang ia temui hanyalah kehampaan yang memilukan. Ketika matanya menangkap bayangan jasad yang terbungkus oleh reruntuhan, hatinya hancur berkeping-keping. Dalam diam yang penuh duka, ia membongkar reruntuhan dengan tangannya sendiri, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan.
Namun, yang ada hanya tubuh yang telah luluh oleh beban dan kehancuran. Dengan gemetar, ia menggenggam jasad yang terbujur kaku itu, mencium dinginnya kulit yang dulu hangat oleh kasih sayang. Air mata tak terbendung lagi mengalir deras dari mata Ali. Rasa sesal dan penyesalan memenuhi hatinya, meratap atas kehilangan yang begitu besar dan kekosongan yang tak terlupakan.
Di tengah kesedihan yang memilukan, Ali meratap dalam kesendirian, memeluk jasad yang sudah tak bernyawa itu dengan erat. Ia berdoa kepada Tuhan, memohon ampunan bagi kedua orangtuanya yang telah tiada. Namun, dalam keheningan malam yang sunyi, hanya suara tangisnya yang terdengar, mengiringi pesan-pesan terakhir yang tak tersampaikan.
Dalam bencana yang melanda, Ali merasakan betapa rapuhnya kehidupan dan betapa singkatnya masa yang dimiliki untuk menyampaikan rasa cinta. Ia menyadari betapa berharganya setiap momen bersama orang yang dicintainya.
Ali meratap dalam kesedihan yang tak terperi, merindukan pelukan hangat kedua orangtuanya yang tak akan pernah ia rasakan lagi. Ali membiarkan air mata mengalir, tak lagi sebagai tanda kesedihan, namun sebagai ungkapan syukur atas nikmat kebersamaan yang diberikan Allah di bulan yang penuh berkah ini.
Dan di bawah cahaya rembulan yang bersinar gemilang, Ali merasakan pelukan hangat Ramadhan yang terakhir bersama keluarganya, sebuah pelukan yang akan terus membimbingnya dalam setiap langkah hidup yang ia jalani.
Oleh: Syahzilla Nailatul Izzah
AlamatΒ Β Β Β Β :Β Β Desa Leuge, Kec. Peureulak, Kab. Aceh Timur
Asal Sekolah :Β Β SMKN Taman Fajar Aceh Timur






Keren.. Mantap.. Syahzilla πππππππ
Semoga berhasil dan apa yang diharapkan tercapai dengan hasil yang memuaskan.
Good luck dan tetap semangat πͺ