Headline

Harum Nilam dari Ujung Timur, Asa Petani Simpang Jernih di Tengah Terjalnya Jalan dan Turunnya Harga

Laporan : Maulana

Harum Nilam, Harapan dari Ujung Timur
Empat jam menempuh perjalanan darat dari Kota Peureulak, menyusuri jalanan berbatu yang meliuk di antara perbukitan dan hutan lebat, akhirnya membawa Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, ke sebuah titik jauh di pedalaman Simpang Jernih.

Di tempat ini, udara tidak hanya segar, tetapi juga kaya dengan aroma khas dari tumpukan daun nilam yang baru dipanen. Wangi itu menyambut siapa pun yang datang bukan sekadar aroma, tapi tanda bahwa di balik hijau hutan, ada kehidupan yang berjuang untuk masa depan.

Sejak tahun 2024, warga mulai beralih menanam nilam. Tanaman ini bukan sekadar komoditas baru, melainkan sumber harapan baru. Harga minyak nilam yang sempat menembus Rp2 juta per kilogram menghidupkan semangat petani yang selama ini menggantungkan hidup pada hasil kebun biasa.

β€œSekarang kami fokus ke nilam. Waktu harga tinggi, semangat kami luar biasa,” kata Ali Hasan, seorang petani yang hadir menyambut kunjungan Bupati, Kamis, 17 Juli 2025.

Dalam sepekan, Simpang Jernih bisa menghasilkan 200 hingga 300 kilogram minyak nilam. Namun, kejayaan itu tak bertahan lama. Harga anjlok, kini hanya sekitar Rp700 ribu per kilogram. Proses penyulingan pun masih dilakukan dengan cara tradisional, menggunakan tungku sederhana dari drum dan pipa uap.

β€œKalau bisa, ya harga minimalnya Rp1 juta lah, Pak. Baru cocok dengan kerja kami di kebun dan proses penyulingannya,” ungkap Ali, dengan nada yang tidak marah, tapi penuh harap.

Di tengah keterbatasan infrastruktur, alat produksi, dan akses pasar, para petani tetap bertahan. Mereka tidak sekadar menggantungkan hidup pada tanah, tetapi juga menyimpan harapan agar tanah itu benar-benar diperhatikan.

Bupati Al-Farlaky menyambut aspirasi mereka dengan tangan terbuka. Ia melihat langsung potensi besar yang belum tersentuh maksimal. Menurutnya, Simpang Jernih adalah ladang emas hijau yang harus disokong dengan kebijakan dan dukungan nyata.

β€œDari laporan saya dapatkan, setiap pekan hasil nilam dari Simpang Jernih bisa mencapai 300 sampai 400 kilogram. Tapi karena keterbatasan alat dan akses pasar, harganya masih rendah,” ujarnya.

Dalam kunjungan itu, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan Simpang Jernih sebagai kawasan penghasil nilam yang masuk dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Ia juga membuka peluang seluas-luasnya bagi para investor untuk datang dan membangun kerja sama.

β€œKami undang siapa saja yang ingin melihat dan membeli minyak nilam dari Simpang Jernih. Baik dari Banda Aceh, Jakarta, atau di mana pun berada. Silakan datang, karena kualitas nilam dari sini sangat layak untuk pasar ekspor,” tegasnya.

Langkah kecil di pedalaman ini mungkin tak banyak disorot, tapi bagi masyarakat Simpang Jernih, kunjungan Bupati membawa arti besar. Bukan hanya soal janji pembangunan, tapi tentang pengakuan bahwa mereka ada dan layak diperjuangkan.

Di bawah naungan pohon dan aroma nilam yang menguar dari tungku penyulingan, mereka menunggu. Menunggu harga kembali layak. Menunggu alat penyuling modern. Menunggu investor datang. Tapi yang paling mereka tunggu adalah masa depan yang lebih harum dari nilam itu sendiri.(***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button