OPINI

Teras Hati Dan Sebuah Kontemplasi

Setiap kita adalah pejuang di medan perang dan sebenarnya setiap kita juga pemenang. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa akan menjadi pemenang sehingga yang dilakukan hanya semampunya tanpa melibatkan psikologis.

Kita semua berjuang meski dalam hal dan bentuk yang berbeda karena jalan juangnya pun beragam. Ada yang sedang memperjuangkan keturunan, kehormatan, cinta, cita-cita rezeki dan masih banyak banyak lagi. Dalam proses mencapai visi yang akan ditempuh tidak mungkin lancar tanpa badai. Bukan dunia Namanya jika tidak membuat pusing tujuh keliling. Karena dunia memang diciptakan sebagai tempat berlelah letih. Istirahatnya dimana ? nanti disurga saja.

Kalau ukuran medan perjuangan kita berbeda. Seharusnya perlu kita curigai ada hikmah apa dibalik ini semua. Karena tidak mungkin Allah menguji dan menempa hambanya tanpa ada hal yang ingin Allah sampaikan kepada kita. Bisa jadi agar kita tidak berfokus pada diri sendiri saja. Agar kita sesekali menengok ke atas dan kita sadar bahwa diberi ujian karena Allah percaya akan kekuatan kita sehingga pantas saja perjuangan dan tantangan lebih terjal yang kita hadapi. Agar skill sabar itu harus terus diasah agar bertambah handal. Kala menengok ke bawah membuat kita bersyukur atas sedikitnya ujian yang sedang menimpa. Syukurpun juga harus diasah agar tidak berubah menjadi kufur.

Seperti hadis dalam islam menyebutkan bahwa perkara-perkara umat islam itu semuanya indah, jika ditimpa kesusahan ia bersabar dan jika mendapat kesenangan ia bersyukur.Kalau Masalah yang kita hadapi masih seputar tidak disukai orang, dibicarakan, di diskriminasi, dan lain sejenisnya.

Bersyukurlah sebab masalah yang sedang kamu hadapi adalah masalah sejuta umat, semua orang juga pernah menghadapinya. Mari kita Analisa kembali tentang berbagai problematika kehidupan saat ini. Kehidupan yang tidak baik-baik saja. Diluar sana ada kisah seorang anak yang baru saja kehilangan orang tuanya, bahkan tidak tahu siapa orang tuanya. Diluar sana ada orang yang tidur tidak beralaskan tikar di pinggir kios orang. Ada wanita yang baru saja direbut kehormatannya.

Ada juga ibu yang terbaring lemah tak berdaya menunggu anaknya datang mengumpulkan pundi rupiah agar bisa dilarikan ke rumah sakit. Ada pasutri setelah menikah bertahun-tahun menanti buah hati, istrinya meninggal usai melahirkan, ya itu semua kehidupan yang saat ini tidak terjadi padamu, pada kita.

Jika masalahmu masih seputar cinta, dicuekin laki-laki didiamkan perempuan, dan merasa paling susah didunia . Lari ke kamar dan bercerminlah. Ada yang harus di crosscheck lagi padamu. Banyak orang ketika bertemu kita memiliki senyum yang tulus dan mata yang teduh. Tampak begitu ceria seperti tidak pernah terjadi apa-apa . Dia hanya tidak ingin kita mengetahui masalah hidupnya atau khawatir tidak bisa menjelaskan perasaannya.

Atau dia takut menjelasakan, takut air matanya tumpah ruah, atau begitu takutnya orang lain tidak mengerti air matanya. Hingga yang tersisa adalah tangisannya kepada Rabbnya. Ditangisinya malam hari ketika semua sepi.

Perlu ditanamkan dalam hati. Ketika dunia sedang porak parranda ingatlah bahwa pada kapal yang berlayar dengan gagah ada nahkoda hebat di dalamnya . Yang sudah berkali-kali menaklukkan badai atas izin Rabbanya. Ada hati yang berkali-kali belajar membahagiakan diri.

Terbentur, terbentur, terbentur, kemudian baru terbentuk . Begitu kira-kira ungkapan yang tepat untuk permisalan dalam hal ini. Semakin sering terbentur maka akan semakin indah terbentuk.

Bentuk atau hasilnya berupa apa ? Bisa dalam wujud kebesaran jiwa, kelapangan dada atau kemahiran raga menyelesaikan sisa-sisa perjuangan yang ada . Tetaplah tegar seperti karang yang setiap waktu air laut bisa pasang surut, tapi karang tidak pernah mengeluh kepada penciptanya.

sebab kita tidak tahu ketegaran mana yang membuat Allah kemudian mengabulkan harapan demi harapan. Tetaplah tegar karena kamu tidak sendirian, jutaan manusia di dunia ini juga sedang berjuang hanya saja ada dari mereka yang tidak ingin terpublis
Nanti jika semua sudah terlewati maka hal yang paling indah adalah mengenang masa-masa berjuang.

Hitungan waktu seringkali baru terasa berarti ketika kita sadar bahwa semua sudah menjadi kenangan. Padahal tidak sekali dua kali kita menyadari bahwa suatu hari kita akan menengok kembali ke hari ini untuk mengingat apa yang pernah datang, yang terlewatkan dan yang kita miliki , juga kita ikhlaskan.

Saya mengamati ada empat responsif seseorang ketika mendapatkan stimulus kekecewaan, (1) Ada yang kecewa lalu menjalankan hidup sekedarnya, (2) Ada yang teramat kecewa lalu menjadikan energi untuk melesatkan perjuangannya. (3) Ada juga yang kecewa namun mengubahnya menjadi sebuah penerimaan terhadap kesempurnaan atau bisa disebut berdamai dengan diri sendiri dan keadaan. (4) Ada juga yang akhirnya memilih pasif untuk bergerak dan memilih untuk berhenti berjuang karena terlalu larut dalam kekecewaan.

Hari ini dan hari-hari ke depan bukankan kita sedang merangkai kenangan yang suatu waktu akan kita putar ulang. Hari ini dan hari yang kedepan bukankah kita sedang merangkai sesuatu yang abadi. Sesuatu yang tidak bisa lagi untuk diperbaiki. Maka, setidaknya di tengah perjalanan lakukan satu dua hal yang tidak perlu untuk disesali. Lakukan dengan baik dan sepenuh hati. Bagaimana hasilnya nanti, biar cara Allah menyertai karena harapan itu ada maka akan melahirkan doa. Maka jangan lupa untuk selalu berdoa.
Doa doa yang berisi mudah-mudahan. Untuk yang mengenang sedang dan akan berjuang. Selamat berproses bertumbuh dan berkembang, jangan sampai tumbang dijalan dan jangan lupa jika nantinya sudah kuat dan bisa menularkan kekuatan. Tularkan kekuatan kepada insan yang membutuhkan semoga dimanapun kita berada dapat menularkan vibes positif untuk sekitar.


Nurul Meina S.Psi
(Guru BK SMK Negeri 1 Pante Bidari)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button