Barista Arab Saudi

Kami duduk semeja bersama beberapa jurnalis yang bertugas di wilayah Aceh Timur. Obrolan sore itu berlangsung santai. Mulai dari isu-isu terkini, perkembangan daerah, hingga cerita tentang anak-anak muda yang berhasil menembus batas lewat kemampuan yang mereka miliki.
Dari diskusi ringan itu, kami sampai pada satu kesimpulan sederhana: pemuda yang sukses adalah mereka yang mampu membangun personal branding melalui keterampilan (skill), kerja keras, dan keberanian menunjukkan kompetensinya. Kesimpulan itu kami sepakati bersama.
Satu per satu, kami saling berbagi cerita. Ada yang mengisahkan musisi, politisi muda, pengusaha, hingga fotografer asal Aceh yang berhasil meniti karier. Menariknya, hampir semua kisah sukses itu memiliki benang merah yang sama kemampuan pribadi menjadi pintu pembuka berbagai kesempatan.
Saya pun ikut menyampaikan sebuah cerita tentang seorang pemuda inspiratif dari Kota Idi. Namanya Rizki. Saat ini ia bekerja sebagai barista di Arab Saudi. Kesempatan itu bukan datang begitu saja, melainkan karena kepiawaiannya meracik kopi.
Bagi saya, pencapaian itu sangat membanggakan. Apalagi, saya pernah berada dalam satu program pelatihan barista di Aceh Timur, dan saat itu Rizki menjadi instruktur. Sejak awal, saya memang melihat keseriusan dan kompetensi yang ia miliki.
Saya bercerita kepada teman-teman bahwa Rizki kini cukup diperhitungkan di Arab Saudi. Jam terbangnya semakin tinggi. Ia telah mengikuti berbagai ajang dan kegiatan barista di sana. Bahkan, berdasarkan informasi yang saya terima, ia berpeluang mewakili komunitas barista di Arab Saudi dalam sebuah event internasional di Milan, Italia.
Menariknya, sekitar lima menit setelah cerita itu saya sampaikan, sosok Rizki justru muncul di hadapan kami.
Ternyata ia sudah beberapa hari berada di Kota Idi untuk pulang menemui keluarga. Kami sempat kehilangan kontak sehingga tidak mengetahui kepulangannya.
Kami langsung menyambutnya dengan antusias. Sambil tersenyum saya berkata kepada teman-teman, “Inilah pemuda yang baru saja saya ceritakan.” Rasanya seperti ada kebetulan yang sulit dijelaskan. Orang yang sedang kami bicarakan tiba-tiba hadir di hadapan kami.
Suasana diskusi pun berubah semakin hidup. Kali ini kami mendengarkan langsung pengalaman Rizki. Ia berbagi banyak cerita tentang dunia barista, budaya kerja di Arab Saudi, hingga peluang yang masih sangat terbuka bagi anak-anak muda Indonesia.
Rizki mengaku kepulangannya ke Indonesia hanya untuk waktu yang singkat. Ia ingin bertemu keluarga sebelum kembali lagi ke Arab Saudi dalam beberapa hari ke depan.
Salah satu cerita yang paling menarik perhatian kami adalah besarnya kebutuhan tenaga barista di sana.
Menurut Rizki, profesi barista di Arab Saudi sangat dihargai dan memiliki prospek yang menjanjikan. Bahkan, saat akan kembali nanti, ia mendapat tanggung jawab untuk membawa sekitar sepuluh orang barista baru. Namun, tugas itu bukan perkara mudah.
Bukan karena minimnya lapangan pekerjaan, melainkan karena sulit menemukan calon barista yang benar-benar siap berangkat. Salah satu kendala terbesar adalah kemampuan berbahasa Inggris. Meski demikian, kata Rizki, tidak harus fasih. Setidaknya memiliki kemampuan dasar untuk berkomunikasi sudah menjadi modal yang cukup.
Rizki juga bercerita bahwa saat ini ia telah memiliki jaringan yang luas dengan berbagai restoran dan kedai kopi di Arab Saudi. Peluang kerja terbuka lebar. Selama memiliki keterampilan yang baik, kesempatan untuk bekerja dengan penghasilan yang layak sangat mungkin diraih.
Cerita Rizki menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia berawal dari kesungguhan menekuni satu keahlian, lalu terus belajar hingga kesempatan datang menghampiri.
Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, kisah seorang pemuda dari Kota Idi ini memberi pesan sederhana namun kuat skill adalah investasi terbaik. Ketika kemampuan dipadukan dengan kemauan untuk terus berkembang, dunia pun bisa menjadi tempat bekerja.
By : Maulana





