DAERAHOPINI

Andai Pante Bidari Punya Kawasan Olahraga Terpadu

Beberapa hari terakhir saya iseng mencoba mendesain sebuah kawasan olahraga sederhana dengan bantuan AI. Bayangan saya sederhana, bagaimana jika Kecamatan Pante Bidari, Simpang Ulim, dan Madat suatu saat memiliki ruang olahraga yang nyaman, hijau, dan bisa dinikmati semua kalangan.

Bukan stadion yang megah. Bukan pula fasilitas yang serba mahal. Cukup sebuah lapangan sepak bola yang berdampingan dengan lintasan joging, ruang terbuka hijau, dan beberapa sarana olahraga fisik. Tempat yang membuat masyarakat ingin bergerak, berkumpul, dan hidup lebih sehat.

Mengapa saya sampai membayangkan hal ini?

Karena belakangan saya melihat semakin banyak masyarakat di wilayah kita yang mulai sadar akan pentingnya berolahraga. Setiap pagi, bapak-bapak, ibu-ibu, anak muda hingga pelajar mulai rutin berjalan kaki atau berlari. Padahal olahraga tidak selalu harus berat. Berjalan santai sambil menghirup udara segar pun sudah menjadi aktivitas yang sangat baik bagi kesehatan.

Lalu, mengapa saya mengusulkan adanya lapangan sepak bola yang dilengkapi lintasan joging di Pante Bidari?

Alasan pertama adalah sebagai sarana pembinaan dan edukasi olahraga. Kita tidak pernah tahu berapa banyak bakat terpendam yang dimiliki putra-putri daerah ini. Mereka hanya belum memiliki tempat yang layak untuk berlatih.

Saya teringat sebuah kisah nyata. Beberapa waktu lalu ada seorang anak asal Aceh Timur yang berhasil menjadi atlet lari dan mewakili Aceh ke tingkat nasional. Saya penasaran lalu bertanya kepada pengasuhnya, “Di mana dia berlatih?”

Jawabannya cukup membuat saya tersenyum. Ternyata ia berlatih secara alami setiap hari di pinggir pantai, karena memang tinggal di kawasan pesisir. Dari cerita sederhana itu saya semakin yakin bahwa bakat bisa lahir dari mana saja. Bayangkan jika anak-anak kita memiliki lintasan lari yang layak. Tentu peluang melahirkan atlet-atlet baru akan semakin besar.

Alasan kedua, fasilitas ini dapat menjadi tempat latihan fisik bagi generasi muda yang bercita-cita menjadi anggota Polri, TNI, sekolah kedinasan maupun profesi lain yang membutuhkan kebugaran jasmani. Mereka tidak perlu lagi berlatih di sembarang tempat. Bahkan bukan tidak mungkin akan lahir lembaga latihan fisik lokal yang membimbing putra-putri daerah hingga berhasil menggapai impian mereka.

Alasan ketiga berkaitan dengan keselamatan. Saat ini hampir setiap pagi kita melihat masyarakat berjoging di sepanjang Jalan Nasional Medan–Banda Aceh. Memang mereka memperoleh manfaat kesehatan, tetapi di sisi lain ada risiko yang tidak kecil. Kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, ditambah polusi udara dari lalu lintas yang tentu tidak baik bagi kesehatan.

Karena itu, menghadirkan lintasan joging yang aman menurut saya bukan hanya soal olahraga, tetapi juga soal melindungi masyarakat.

Saya tidak bermimpi memiliki fasilitas yang mewah. Sarana olahraga yang sederhana, bersih, aman, dan terawat sudah lebih dari cukup. Yang penting masyarakat memiliki ruang untuk hidup sehat.

Lalu bagaimana pengelolaannya?

Menurut saya, kawasan ini justru bisa menjadi denyut ekonomi baru bagi masyarakat dan gampong sekitar. Pengelolaan dapat diatur melalui kesepakatan bersama.

Jika memang diperlukan, bisa diterapkan iuran kebersihan yang wajar atau disubsidi oleh pemerintah. Bahkan bila memungkinkan, fasilitas ini tetap dapat dinikmati secara gratis. Yang terpenting adalah pengelolaannya transparan dan bebas dari pungutan liar.

Lapangan sepak bola akan hidup ketika ada turnamen atau kompetisi. Di sekitar lintasan joging, masyarakat dapat membuka usaha kecil seperti menjual jagung bakar, air minum, kelapa muda, kacang rebus, hingga aneka jajanan tradisional. Aktivitas ekonomi tumbuh, masyarakat sehat, dan gampong pun ikut merasakan manfaatnya.

Jika dikelola dengan baik, setiap tahun kawasan ini bisa terus dibenahi. Taman diperindah, fasilitas olahraga ditambah, dan pendapatan gampong juga dapat meningkat. Tentu semuanya tetap harus dikemas sesuai nilai-nilai syariat Islam yang berlaku di Aceh, baik dari sisi tata kelola maupun etika berpakaian para penggunanya.

Pada akhirnya, gagasan ini bukan sekadar tentang membangun lapangan atau lintasan lari. Ini adalah ikhtiar menghadirkan ruang hidup yang lebih sehat, melahirkan atlet-atlet baru, membuka peluang ekonomi masyarakat, sekaligus mewariskan kebiasaan baik kepada generasi yang akan datang.

Siapa tahu, suatu hari nanti, dari Pante Bidari, Simpang Ulim, atau Madat akan lahir atlet nasional yang mengharumkan nama Aceh, lahir Kapolres, Dandim, Kapolda, dan SDM Unggul lainnya yang asli asal Daerah. Semua itu bisa berawal dari sebuah lintasan sederhana yang dibangun dengan niat yang baik.


Penghayal : Maulana

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button