DAERAH

Disdikbud Aceh Timur Cetuskan Program Jelajah Siswa ke Situs Cagar Budaya

Aceh Timur — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Aceh Timur mencetuskan program jelajah siswa dan siswi ke sejumlah situs cagar budaya yang tersebar di wilayah Aceh Timur.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya Disdikbud Aceh Timur dalam memberikan pembelajaran sejarah dan kebudayaan secara langsung kepada peserta didik, sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap keberadaan serta kelestarian warisan budaya daerah.

Dalam wawancara media ini, Kabid Kebudayaan Disdikbud Aceh Timur, Suriadi, SE, mengatakan kegiatan jelajah situs cagar budaya merupakan bentuk pembelajaran di luar kelas (outing class) yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal sejarah secara langsung di lokasi peninggalan masa lalu.

“Program ini kita laksanakan untuk memberikan edukasi kepada siswa dan siswi di Aceh Timur agar mereka dapat mengenal dan memahami berbagai situs cagar budaya yang ada di daerah kita,” ujar Suriadi.

Menurutnya, pembelajaran dengan mengunjungi langsung situs bersejarah diharapkan dapat memberikan pengalaman yang berbeda kepada siswa.

Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui buku atau materi di ruang kelas, tetapi juga dapat melihat secara langsung peninggalan sejarah yang menjadi bagian dari identitas daerah.

Selain mengenalkan sejarah, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap upaya pelestarian cagar budaya.

Dengan mengenal nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, generasi muda diharapkan memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaga dan merawat warisan budaya tersebut.

Salah satu lokasi yang menjadi tujuan jelajah siswa adalah Masjid Tuha Simpang Ulim, yang merupakan salah satu masjid bersejarah dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Masjid tersebut berada di kawasan Lamkuta Keude Tuha, yang kini masuk dalam wilayah Gampong Blang, Kecamatan Simpang Ulim.

Masjid Tuha Simpang Ulim memiliki keterkaitan erat dengan sejarah awal perkembangan wilayah Simpang Ulim. Pendirian masjid tersebut tidak terlepas dari sejarah pembukaan kawasan Simpang Ulim oleh tokoh uleebalang sekaligus pedagang lada, Teuku Nyak Malem, yang berasal dari Aceh Besar dan kemudian dilanjutkan oleh putranya, Teuku Muda Yusuf.

“Jadi siswa kita ajak langsung melihat situsnya, mendengar sejarahnya, dan memahami bagaimana perjalanan suatu daerah dari masa lalu hingga sekarang,” kata Suriadi.

Selain Masjid Tuha Simpang Ulim, Disdikbud Aceh Timur juga mengajak siswa mengunjungi sejumlah situs cagar budaya lainnya, di antaranya situs Makam Sultan Ahmad Al-Bakari, situs Ulee Balang Kenegerian Julok, serta situs cagar budaya Monumen Pelabuhan Lada Simpang Ulim.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur, Bustami, S.Pd., M.Si., mengatakan program jelajah situs cagar budaya bukan sekadar kegiatan wisata atau jalan-jalan biasa.

“Ini adalah proses belajar yang interaktif. Kami ingin kalian tidak hanya mengenal nama situsnya, tetapi juga memahami nilai penting di balik perlindungan cagar budaya tersebut,” kata Bustami.

Ia menegaskan, keberadaan situs cagar budaya merupakan bagian penting dari identitas dan sejarah daerah yang harus dijaga bersama. Karena itu, generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan warisan tersebut tetap dikenal dan dilestarikan oleh generasi berikutnya.

“Menjaga dan melestarikan warisan ini adalah tanggung jawab kolektif kita bersama. Tongkat estafet tersebut kini ada di tangan generasi muda,” pungkas Bustami. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button