Headline

Sopir Bot Sang Penjaga Jalan Sungai Di Simpang Jernih

Mereka adalah (Sopir Bot), sebutan warga lokal untuk para nahkoda perahu yang setiap hari mengarungi sungai di pedalaman Aceh Timur.

Perahu tradisional menjadi salah satu andalan utama transportasi masyarakat Gampong Rantau Panjang Bidari, Kecamatan Simpang Jernih. Mereka disana adalah suku Gayo yang masih tinggal menata hidup dihulu Sungai dan hutan Aceh Timur.

Bukan hanya warga di sana, masyarakat Batu Sumbang hingga Pante Kera juga bergantung pada armada sungai yang sama untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Ukuran perahu kayu ini beragam. Ada yang panjangnya lebih dari 10 meter, dengan kapasitas ideal sekitar 10 orang. Namun kemarin, batas itu dilampaui 12 orang diangkut dalam satu perjalanan.

Ada pula perahu berukuran lebih kecil yang hanya mampu membawa 5 hingga 7 penumpang.

Perahu ini bukan hanya mengangkut manusia. Hasil alam dari ufuk Aceh Timur turut menyusuri sungai bersama mereka. Tandan sawit, hingga durian musiman yang terkenal lezat dari Simpang Jernih dan Lokop, pernah menjadi muatan harian. Sungai adalah nadi ekonomi, dan perahu adalah denyutnya.

Mesin dompeng berbahan bakar solar menjadi tenaga utama. Untuk perjalanan pulang pergi dari Rantau Panjang menuju pusat Kecamatan Simpang Jernih, dibutuhkan sekitar 18 liter solar.

Jika berangkat dari pusat kecamatan menuju Rantau Panjang, para sopir bot harus melawan arus sungai selama kurang lebih 1 jam 45 menit. Saat hujan deras dan debit air meningkat, mereka dengan tegas tak merekomendasikan penyeberangan. Keselamatan tetap nomor satu.

Bagi mereka, perahu adalah β€œInnova Reborn” versi sungai. Kadang mesin diuji, kecepatan diadu, saling salip di tikungan tajam namun selalu dengan kehati-hatian.

Di balik itu, candaan khas tetap mengalir, terutama saat mesin mogok di tengah arus. Mereka saling menggoda, seolah melemahkan mesin satu sama lain, tapi rasa sosial tak pernah koyak. Jika satu perahu bermasalah, perahu lain pasti berhenti membantu.

Yang paling kuat bukan mesin, tapi hati mereka. Meski sekitar 80 persen rumah rusak diterjang banjir, tawa masih tersisa. Wajah mereka tetap memancarkan harapan untuk tanah ini, untuk anak-anak mereka, untuk masa depan yang belum menyerah.

Bagi sopir bot, sungai adalah jalan tol tanpa kartu. Sungai dan perahu adalah asa. Setiap hari mereka melawan arus, bukan hanya arus air, tapi juga arus ketertinggalan dari dunia modern yang terasa jauh. Namun mereka tetap berdiri, tetap bekerja, tetap percaya.

Karena selama sungai masih mengalir, semangat mereka tak akan surut.
Dan selama perahu masih melaju, harapan itu akan terus menyusuri arus.

Catatan Perjalanan Maulana Ke Simpang Jernih Bersama Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al- Farlaky, Senin 5 Januari 2026.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button