
ACEH TIMUR — Penebangan pohon di lingkungan SMA Negeri 1 Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur, menuai kecaman dari Wakil Ketua Komisi I DPRK Aceh Timur, Tgk. Iskandar Midsen.
Ia mendesak pihak berwenang segera turun tangan untuk memeriksa tindakan tersebut, termasuk menelusuri dasar kebijakan dan pihak yang bertanggung jawab. Hal itu disampaikan Tgk Iskandar dalam siaran persnya yang diterima media ini, Sabtu 24 Oktober 2026.
Wakil Ketua Komisi I DPRK Aceh Timur ini menyayangkan hilangnya pepohonan yang telah tumbuh dan dirawat selama puluhan tahun di lingkungan sekolah. Menurutnya, pohon-pohon tersebut bukan sekadar penghias halaman, melainkan bagian penting dari lingkungan pendidikan yang memberikan kesejukan, kenyamanan, serta mendukung proses belajar mengajar.
“Ini sangat disayangkan. Pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun tidak bisa digantikan begitu saja dalam waktu singkat. Ketika seluruhnya ditebang, yang hilang bukan hanya penghijauan, tetapi juga kenyamanan lingkungan sekolah yang selama ini dinikmati siswa dan para guru,” tegas Tgk. Iskandar.
Ia menilai, penataan dan pembangunan fasilitas pendidikan semestinya tidak mengabaikan kelestarian lingkungan. Sekolah, kata dia, justru harus menjadi contoh dalam menanamkan kepedulian terhadap alam kepada generasi muda, bukan malah kehilangan ruang hijau tanpa penjelasan yang terbuka kepada publik.
Karena itu, ia meminta Dinas Pendidikan Aceh bersama instansi terkait segera melakukan pemeriksaan menyeluruh. Pemeriksaan tersebut perlu mencakup alasan penebangan, dasar pengambilan keputusan, prosedur atau persetujuan yang diperlukan, serta pihak-pihak yang terlibat.
“Jangan dibiarkan menjadi persoalan tanpa kejelasan. Kami meminta pihak berwenang segera memeriksa, memastikan apakah penebangan ini dilakukan sesuai ketentuan atau tidak. Jika ditemukan pelanggaran, harus ada tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya.
Tgk. Iskandar juga menekankan bahwa persoalan ini tidak boleh berhenti pada polemik sesaat. Menurutnya, harus ada evaluasi terhadap kebijakan penataan lingkungan sekolah agar kejadian serupa tidak terulang di lembaga pendidikan lainnya.
Ia berharap pihak terkait memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat sekaligus menyiapkan langkah pemulihan lingkungan, termasuk penanaman kembali pohon yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kawasan sekolah.
“Pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan bangunan. Lingkungan yang hijau, sejuk, dan sehat juga bagian dari pendidikan. Jangan sampai kita mengajarkan anak-anak pentingnya menjaga alam, tetapi lingkungan tempat mereka belajar justru kehilangan seluruh pepohonannya,” tutup Politisi muda Partai Aceh ini.(***)




