Gema Ramadan

[CERPEN ] Persiapan Menyambut Ramadan

Dengan langkah cepatnya waktu, umat Islam di seluruh dunia bersiap untuk menyambut Ramadan, bulan yang penuh berkah. Di desa kecil bernama Al-Hikmah, persiapan untuk menyongsong kedatangan bulan suci ini dilakukan dengan penuh semangat dan antusiasme.

Di masjid utama desa, jamaah berkumpul untuk melaksanakan shalat Maghrib. Di antara mereka, terlihat Pak Ali, seorang yang sudah lanjut usia, tetapi semangatnya untuk menyambut Ramadan tidak pernah luntur. Setelah shalat, Ustadz Faisal memberikan ceramah singkat tentang pentingnya persiapan spiritual untuk Ramadan.

Tidak hanya persiapan spiritual, tetapi persiapan fisik juga dilakukan dengan sungguh-sungguh. Warung-warung dan penjual makanan khas Ramadan mulai bermunculan di sepanjang jalan desa. Para ibu rumah tangga juga sibuk memasak hidangan lezat untuk berbuka puasa.

Namun, di tengah kegembiraan itu, ada juga kekhawatiran yang menyelimuti sebagian orang. Ahmad, seorang anak kecil yang kehilangan ayahnya, merasa sedih karena kehilangan tradisi berbuka puasa bersama ayah. Namun, dengan tekad yang bulat, ia memutuskan untuk melanjutkan tradisi itu sendiri.

Ketika malam tiba dan bulan sabit mulai muncul, suasana haru campur gembira terasa di rumah Ahmad. Setiap hari, umat Muslim di desa berkumpul untuk berbuka puasa bersama di masjid utama. Ahmad, dengan penuh kebahagiaan, membuka bekal kurma yang ia bawa sendiri, mengenang kenangan bersama ayahnya.

Ramadan menjadi waktu introspeksi bagi semua orang di desa. Mereka berlomba-lomba meningkatkan ibadah dan amal sholeh, meraih berkah dan ampunan dari Allah SWT. Di akhir Ramadan, umat Muslim di desa Al-Hikmah menyambut hari raya Idul Fitri dengan penuh kegembiraan dan syukur atas segala berkah yang telah diberikan.

Tetapi, di balik kebahagiaan itu, masih ada satu hal yang mengganggu pikiran Ahmad. Ketika malam Idul Fitri tiba, sementara semua orang merayakan kemenangan mereka, Ahmad merasa sesuatu yang hilang. Ia menyadari bahwa perayaan ini tidak lengkap tanpa doa khusus yang selalu dibacakan oleh ayahnya di akhir puasa. Dengan hati yang berat, ia meninggalkan keramaian perayaan dan pergi ke pemakaman tempat ayahnya dimakamkan

Di sana, di bawah cahaya rembulan yang gemilang, Ahmad berlutut di depan makam ayahnya. Dengan suara lirih, ia membacakan doa yang biasa dibacakan ayahnya setiap malam Idul Fitri. Meskipun air mata mengalir di pipinya, tetapi dalam keheningan malam itu, Ahmad merasakan kehadiran ayahnya yang begitu dekat.

Saat ia bangkit dari ruku’, Ahmad merasa ada kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya. Ia menyadari bahwa meskipun ayahnya telah tiada, tetapi warisan berharga yang ia tinggalkan masih hidup dalam dirinya. Dengan tekad yang bulat, Ahmad berjanji untuk terus menjaga tradisi yang telah diajarkan ayahnya, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi sepanjang tahun.

Dari malam itu, Ahmad menjadi pribadi yang lebih kuat dan tegar. Setiap Ramadan berikutnya, ia terus mengikuti jejak ayahnya dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan. Di mata orang-orang desa, Ahmad menjadi teladan bagi kegigihan dan keteguhan hati.

Dan di setiap sudut desa Al-Hikmah, cerita tentang Ahmad dan tekadnya untuk menjaga tradisi ayahnya terus berkembang. Ia menjadi bukti bahwa meskipun kehilangan seseorang yang dicintai, namun cinta dan kenangan mereka akan selalu hidup dalam hati kita, mendorong kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Demikianlah, cerita tentang Ramadan di desa Al-Hikmah, di mana setiap detiknya penuh dengan keberkahan dan inspirasi.

 

Penulis : M. Rizki Adisyah

Warga Dusun Pulo Iboih, Gampong Lhok Dalam, Kecamatan Peureulak, Kabupaten Aceh Timur

Peserta Pertama yang mengikuti Lomba Menulis cerpen di media acehframe.com

Masih banyak cerpen lain yang akan ditayang di hari selanjutnya, sabar ya sobb!!!

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button