[CERPEN ]Ramadan Terakhir

Hari ini, matahari begitu terik, cuaca akhir-akhir ini, memang sedang panas-
panasnya.Setelah selesai membantu bunda dalam kegiatannya memasak, aku lanjut membantu
kegiatan lainya Mulai dari menjemur kelapa yang sudah diparut, kemudian mengonsengnya
Kata bunda, kelapa yang digonseng, kemudian digiling dengan batu gilingan, sampai
mengeluarkan minyak, merupakan bumbu pelengkap yang amat penting untuk
ditambahkan dalam memasak kuah daging
Yang dinamakan dengan U Neulhe, juga digunakan untuk tambahan bumbu memasak
ikan, bukan hanya daging, jadi karena dirumah kami, stoknya habis untuk memasak,
jadi aku membantu bunda membuat nya lagi, karena beberapa hari lagi kami akan
memasak kuah daging yang lumayan banyak.
Maklum saja, kami di Aceh punya tradisi makmeugang Yaitu sebuah tradisi yang
unik ketika menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satu tradisi masyarakat Aceh
dalam menyambut bulan puasa adalah melaksanakan pemotongan hewan pada satu atau dua
hari sebelum bulan puasa.Tradisi pemotongan hewan ini dalam Masyarakat Aceh dikenal sebagai meugang atau makmeugang. βMeugangβ merupakan hari yang dirayakan dengan cara memasak dan menyantap daging bersama-sama dengan keluarga, yang dilakukan sehari menjelang bulan puasa. Hari tersebut merupakan waktu yang dimanfaatkan oleh keluarga di Aceh sebagai
waktu berkumpul dan makan bersama.
Aku dan bunda sangat antusias sekali menyambut bulan suci ramadhan, dimana bulan
ramadhan menjadi bulan untuk memperbanyak amalan, dimulai malam hari dengan shalat
tarawih, memperbanyak membaca Al-Qurβan, zikir dan banyak amalan lain yang menjadi
sarana ibadah di bulan mulia
Tiba-tiba, lamunanku buyar, saat mendengar dan melihat, tetanggaku berteriak sambil
berlari kearahku.
βPakon bg?βtanyak ku, sementara detak jantungku berdetak lebih cepat
β aaayah..ayah roneh dek β katanya terbata-bata sambil mengatur nafas
β Pakon ayah lon bang β tanyak ku dengan cepat.
β ayah roneh kamepok, dan Ka geutinggai tanyo β jawab bang lem, dengan menahan
nafas .
Aku menangis sesenggukan, dari arah pintu tengah dapat kulihat bunda menangis,
rasanya ingin aku memeluk bunda, namun pandangan ku gelap, dan aku ambruk
begitu saja, masih dapatku dengar, suara teriakan bunda yg histeris, melihat aku
jatuh, seketika menghilang seiring pandangan ku yang gelap
Sampai aku terbangun karena suara azan, dan aku melihat tangan bunda yang
mengelus-ngelus kepalaku, βDaβ panggil ku
βpat Abah? β Tanyakku dengan issak tangis yang kutahan, kucoba menguatkan hati,
megangap semua adalah mimpi
β Abah kagetinggai tanyo dan kaleuh geusemiyup β kata bunda sambil memegang
tanganku, mungkin mencoba menguatkan, matanya sudah merah dan sebab.
Aku bangun, memandang sekeliling, diluar sudah ada tenda, beberapa kerabat jauh
pun terlihat masuk, ternyata aku telah melewatkan banyak hal, mulai dari melihat
Abah, dimandikan, dikafani, dan dikebumikan, tangis ku pun pecah, duniaku seakan
tergoncang, lelaki yang amat kucintai telah tiada, sosok ayah yang ku panggil Abah
telah tiada, Aku tidak mau kehilangan abah secepat ini. Aku tidak mau abah pergi. Abahku
adalah semangatku. Bagaimana mungkin aku hidup tanpa seorang abah disisiku? Abah
memang orang yang paling dekat denganku. Aku memang anak kesayangan abah, abah
selalu mengutamakan kebahagiaanku. Aku tidak meyangka abah meninggalkanku secepat
ini. Aku terus menangis tak henti-hentinya.
Hari demi hari pun berganti, tak terasa aku telah melewati meugang, hari yang biasanya
kami sambut dengan antusias, bahkan daging yang mengunggah selera tak sedikit pun aku
cicipi, dirumah kami memang tidak ada lagi yang membeli daging, namun kami masih punya
sanak saudara, dan tetangga yang mengantar makanan yang sudah dimasak atau belum
dimasak, beginilah hidup dikampung mengajarkan kita untuk saling membantu, memberi dan
tolong-menolong, dihari-hari biasanya bunda selalu memasak banyak, kata bunda,
memberilah dari setiap rezeki yang kita punya walau dalam bentuk apapun, sejatinya apa
yang kamu beri tak akan pernah habis, tetapi Allah akan melipat gandakan, nasehat-nasehat
dari bunda dan Abah senantiasa tertanam dalam diriku, bunda juga mengatakan berdamai
lah dengan keadaan, hidup didunia ini, ibarat menjadi tukang parkir, semua yang dimiliki
hanya titipan, yang pada waktunya, akan datang si pemilik untuk megambil, aku menjadi
sadar, kearah mana pembicaraan yang bunda maksud, aku semakin berusaha menguatkan
diri, dengan mendengar kan nasehat bunda, karena masih ada bunda yang harus aku jaga,
dan aku bahagia kan, karena kebahagiaan bunda adalah mimpi dan doa yang senantiasa aku
panjatkan, sedangkan untuk abah doa terbaik yang aku kirimkan.
Tak terasa dimalam pertama, dibulan Ramadhan kali ini sangat berbeda, biasa nya Abah
akan mengantar aku shalat tarawih, sekarang aku hanya pergi sendiri menatap malam yang
juga seakan merasakan perih, kembali teringat petuah-petuah Abah dibulan Ramadhan yang
lalu
βdek, saat membukanyan nyan Wate istjabah doa, dek bek tuwo nit puasa, dek bek tuwo
khatam Al-Qurβan , dan ingat, bulan puasa nyan Kon berlomba -lomba pamer ibadah atau
ajang blo menu beujai, tetapi ajang berlomba-lomba dalam memperbanyak amalan dan
mensyukuri nikmat kepada Allah β petuah Abah dulu terus terngiang dikepala ku, sampai tak
terasa, aku sudah sampai dihalaman masjid, aku mantap kan hati untuk senantiasa terus
menjadi wanita kuat, putri kesayangan abah yang patuh dan taat, iqomah telah
dikumandangkan, para jemaah mengatur Shaaf untuk shalat berjamaah
β Allahu Akbar β, imam mengucap takbir sambil selanjutnya membaca doa iftitah dan
Fatihah , aku menahan tangis yang pilu, suara imam menggetarkan hati, Sampai pada rakaat
terakhir aku merasakan sesak, kekhusyukan ku hilang, badanku bergetar hebat,dan aku
merasa terkulai begitu saja, namun, dapat kudengar suara imam mengucap salam,
bersamaan itu aku melihat Abah, berdiri di Shaaf jemaah perempuan dengan memakai baju
Koko putih kesukaannya, melambai mengajak ku pergi, kemudian semua tampak putih, wangi
dan indah…
β innalillahi wa inna ilaihi Rajiβun β ucap jamaah wanita serempak.
PenulisΒ : Adelia Putri Maisari
Alamat : Gampong Pucok Alue II, Kecamatan Simpang Ulim
Asal Sekolah/ Dayah : Santri Pondok Pesantren Serambi Aceh 2, Cot Keumude, Bireun





