Berharap Tidak Ada ‘Walid’ di Tanah Rencong

Sosok Wajah Walid dalam serial Bidaah tampil teduh, ucapannya lembut, dan sorbannya membungkus kepala dengan rapi simbol sosok yang tampaknya bisa dipercaya. Jenggotnya sok Sunnah, hingga membuat anak- anak Walid terperangkap dalam rayuannya.
Serial Bidaah membuat saya kepikiran panjang. Bukan soal dramanya, tapi tentang sosok’ Walid’pemimpin agama karismatik yang ternyata manipulatif, mengendalikan orang-orang di sekitarnya atas nama βjalan kebenaranβ, Ohhhh pooo longggg.
Walid berperan memakai agama bukan buat membimbing, tapi buat menguasai nafsu bejat.Nah bagaimana yang begini, jika terjadi di dunia nyata, seremnya bukan main takkkk? Hana ubat!!!!!
Saya tidak ada bermaksud lain, saya hanya ingin mengajak pembaca bagaimana kalau ada sosok seperti Walid di sekitar kita? Di sekolah , pesantren, di komunitas, bahkan di lembaga – lembaga pendidikan non formal lainnya.
Kita di Aceh, yang dikenal Islami, kadang terlalu percaya pada simbol, jubah, sorban, kutipan ayat. Terkadang kita juga tertipu dengan teori dari Profesor, Doktor, yang berlabel agama mengemasnya dengan nuansa syariah.
Tapi apakah kita pernah bertanya bagaimana mereka itu mengajak kita ke surga dengan cara apa, berta’zim dengan ilmu atau manipulasi? Semoga statemen ini tidak sensitif, beh!!!
Berkaca film” Waled” dari sisi yang berbeda, saya mengajak pembaca tidak curiga berlebihan lantaran di luar sana masih banyak guru-guru agama yang tulus. Mereka ngajarin bukan cuma ayat, tapi adab. Bukan cuma hafalan, tapi keteladanan.
Ada banyak sekali guru- guru, kerabat saya sendiri tumbuh dengan banyak belajar dari guru- guru mereka yang sabar, terbuka, dan bener-bener pengen muridnya jadi manusia baik.
Ilmu agama itu penting karena jadi fondasi hidup buat banyak orang. Tapi tetap, penting juga buat kita memilih tempat belajar yang sehat dan terbuka.
Bukan mau suuzan, tapi berhati-hati itu perlu. Karena yang dimanfaatkan bukan cuma kepercayaan, tapi masa depan orang-orang, terutama perempuan muda seperti Baiduri dalam serial itu.
Mereka yang mencari cahaya, malah bisa terjerumus dalam kegelapan yang dibungkus rapi oleh dalil-dalil yang dipelintir.
Saya menulis ini bukan karena takut, tapi karena sayang. Tanah Rencong punya sejarah panjang soal perjuangan dan nilai-nilai agama. Jangan sampai ada βWalidβ yang muncul diam-diam, menjual mimpi surga sambil menciptakan neraka kecil di sini.
Jadi, mari tetap percaya pada agama, tetap hormat pada guru-guru yang amanah, tapi jangan pernah lepas dari logika. Karena iman yang sehat itu bukan tunduk buta, tapi berjalan dengan cahaya ilmu dan akal.





