MoU Helsinki: Pemuda Aceh Jangan Tumbuh dalam Amnesia Sejarah

Sudah dua dekade Aceh hidup dalam damai sejak penandatanganan Nota Kesepahaman Helsinki pada 15 Agustus 2005. Senjata telah lama diletakkan, suara tembakan berganti dengan riuh anak-anak bermain, dan masyarakat kembali menjalani hidup tanpa rasa takut.
Namun seiring waktu, ada satu hal penting yang justru semakin pudarΒ Β memori bersama tentang masa lalu Aceh yang pernah diliputi luka dan air mata. Peringatan damai saban tahun kini terasa makin seremonial. Banyak anak muda Aceh bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum damai itu terwujud.
Nama Gerakan Aceh Merdeka (GAM) mungkin masih terdengar akrab bagi generasi 80-an dan 90-an. Namun sepertinya asing untuk era 2000 an tentu semakin dangkal tentang apa yang digerilya oleh pasukan GAM dulu.
Pemahaman mengenai latar belakang gerakan itu, jalan panjang perjuangan, hingga proses menuju perdamaian, semakin jarang dibicarakan. Padahal, konflik bersenjata di Aceh bukan sekadar catatan sejarah biasa.
Ia menyisakan ribuan korban jiwa, penghilangan paksa, pengungsian, serta trauma yang masih membekas hingga kini.
Sayangnya, sejarah ini tak banyak diajarkan di sekolah. Generasi muda lebih mengenal tokoh-tokoh nasional, namun tak akrab dengan sejarah daerahnya sendiri. Sejarah Aceh seakan dihapus pelan-pelan oleh waktu dan kelalaian.
Padahal, mengingat masa lalu bukan untuk membuka luka lama atau menumbuhkan dendam, tapi untuk menjaga kesadaran. Sejarah Aceh adalah bagian dari identitas bersama rakyatnya.
Jika generasi muda tak tahu apa yang menyebabkan konflik, bagaimana perdamaian dicapai, dan apa yang telah dikorbankan, maka mereka hanya akan menjadi penonton dari sebuah masa lalu yang tidak mereka pahami.
Perdamaian Aceh bukan hadiah, melainkan hasil dari proses panjang dan melelahkan. Dibangun dari dialog, negosiasi, serta pengorbanan banyak pihak. Karena itu, menjaga damai tak cukup hanya dengan spanduk dan upacara tahunan. Ia harus dirawat dengan pengetahuan, dipupuk dengan kesadaran, dan diwariskan kepada generasi penerus.
Saat ini, pemuda Aceh hidup dalam kenyamanan. Bisa belajar dengan tenang, berkarya tanpa rasa takut, dan menikmati pembangunan tanpa tekanan. Tapi jika mereka tak tahu sejarah yang melatarbelakangi semua itu, maka kenyamanan tersebut bisa terasa kosong bahkan mudah tergelincir bila situasi berubah.
Tiga Usulan Menjaga Ingatan Kolektif
Pertama, sejarah konflik dan perdamaian Aceh perlu masuk dalam kurikulum pendidikan sebagai muatan lokal. Setiap jenjang sekolah di Aceh harus memiliki mata pelajaran sejarah daerah. Tidak ada yang keliru dengan penerapan kurikulum berbasis lokal apalagi Aceh memiliki kekhususan yang dijamin oleh undang-undang.
MoU Helsinki secara eksplisit memberikan kewenangan luas kepada Aceh dalam urusan domestik, kecuali dalam bidang luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter, fiskal, kehakiman, dan agama.
Ini berarti, sektor pendidikan bisa sepenuhnya dikelola secara lokal. Bahkan dalam Pasal 221 UU Pemerintahan Aceh (UU No. 11 Tahun 2006) disebutkan bahwa βbahasa daerah harus diajarkan dalam pendidikan sekolah sebagai muatan lokalβ. Maka, sejarah Aceh pun seharusnya mendapat tempat serupa.
Kedua, jika kurikulum belum bisa diubah dalam waktu dekat, kepala sekolah dapat mengambil langkah sederhana dengan memperbanyak koleksi buku sejarah Aceh di perpustakaan.
Buku-buku yang ditulis oleh para sejarawan, peneliti, dan jurnalis Aceh tentang konflik dan perdamaian harus tersedia dan mudah diakses siswa. Akses terhadap literatur lokal adalah cara konkret untuk mencegah hilangnya jejak sejarah.
Ketiga, untuk orang tua mulailah kembali tradisi membeli buku untuk anak. Dahulu orang tua kita rajin membeli koran dan majalah, lalu menyimpannya dalam kliping pribadi.
Kini, budaya itu perlahan hilang karena derasnya arus teknologi informasi. Padahal, menyisihkan sedikit uang rokok untuk membeli buku sejarah Aceh akan menjadi investasi pengetahuan yang sangat berharga bagi anak-anak.
Generasi muda Aceh hari ini tumbuh dalam damai. Tapi banyak di antara mereka tidak tahu bahwa daerah ini pernah diliputi konflik panjang yang berdarah. Sejarah itu tak banyak diajarkan, apalagi diceritakan.Apakah ini bentuk kelalaian kolektif? Atau ada keinginan diam-diam untuk menghapus sejarah?
Apa pun itu, jika kita tidak bergerak menjaga ingatan, maka sejarah Aceh akan hilang di telan waktu. Dan itu sama saja dengan mengingkari perjuangan mereka yang telah mengorbankan segalanya demi kedamaian hari ini.
Menjaga perdamaian berarti juga menjaga ingatan. Jangan biarkan generasi muda Aceh tumbuh tanpa tahu dari mana mereka berasal dan apa yang pernah diperjuangkan.Karena mengingat adalah bagian dari merawat Aceh.
Penulis: Maulana





