OPINI

Muharram 1448 H : Hijrah Aceh Timur Menuju Peradaban

Muharram bukan sekadar pergantian tahun. Ia adalah pengingat hijrah β€” sebuah transformasi besar yang tidak hanya memindahkan fisik, tetapi mengubah arah peradaban. Rasulullah SAW tidak hijrah untuk mencari kenyamanan. Beliau membangun masyarakat baru di Madinah: bersatu, berilmu, berkeadilan, dan berdaya.

Pertanyaannya: apakah semangat itu hadir di Aceh Timur hari ini?

**Kaya Potensi, Berat Tantangan**

Aceh Timur punya banyak modal. Lahan subur, perkebunan produktif, potensi laut yang melimpah, kehidupan keagamaan yang masih hidup di masjid dan meunasah, serta tradisi gotong royong yang belum padam. Semua itu adalah nikmat yang nyata.

Tapi syukur yang sesungguhnya bukan sekadar hamdalah β€” syukur adalah kemampuan mengubah potensi menjadi kemaslahatan.

Di sisi lain, kita juga tidak boleh menutup mata. Kemiskinan masih ada. Pengangguran pemuda belum tuntas. Ancaman narkoba masih nyata. Dan ada tantangan yang lebih halus: budaya baca yang lemah, ketergantungan pada bantuan, rendahnya nilai tambah produk lokal, hingga generasi muda yang menjauhi sektor pertanian.

Era digital menambah kompleksitas. Teknologi memberi peluang, tapi juga menggerus interaksi keluarga dan menghadirkan arus nilai yang tak selalu sehat.

**Hijrah yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Fisik**

Yang paling dibutuhkan Aceh Timur sekarang adalah hijrah cara berpikir. Dari ketergantungan menuju kemandirian. Dari konsumtif menuju produktif. Dari mengeluh menuju mencari solusi. Dari bangga sejarah menuju semangat membangun masa depan.

**Keluarga: Fondasi yang Sering Terlupakan**

Di tengah hiruk-pikuk pembangunan, keluarga kerap luput dari perhatian β€” padahal di sinilah segalanya bermula. Kejujuran diajarkan, disiplin dibentuk, karakter dibangun. Keluarga sakinah bukan hanya rumah tangga yang harmonis, tapi ruang tumbuh bagi generasi yang sehat, matang, dan siap menghadapi zaman.

Menjadi orang tua di era digital bukan lagi soal mencukupi kebutuhan materi. Ini soal menjadi pendamping, pendidik, dan teladan β€” di tengah anak-anak yang tumbuh bersama layar dan arus informasi tanpa batas.

**Pemuda: Penentu Arah**

Aceh Timur sedang memasuki masa bonus demografi. Ini peluang besar, tapi bisa berubah jadi beban jika tidak diiringi peningkatan kualitas manusianya.

Pemuda Aceh Timur perlu melihat pertanian, perkebunan, dan perikanan dengan mata baru β€” bukan pekerjaan tradisional yang usang, tapi sektor penuh peluang jika disentuh teknologi dan inovasi. Kita butuh lebih banyak wirausahawan muda yang mengolah potensi lokal, bukan sekadar konsumen hiburan digital.

Perubahan selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama. Dan langkah itu harus diambil oleh generasi muda Aceh Timur sendiri.

**Gampong dan Masjid: Pusat Peradaban**

Kemajuan Aceh Timur tidak akan turun dari langit. Ia tumbuh dari kekuatan gampong-gampong kecil yang menjadi fondasinya. BUMG yang dikelola profesional bisa menjadi motor ekonomi desa. Masjid yang aktif bisa menjadi pusat pembinaan generasi.

Tapi semua itu butuh kolaborasi β€” antara tokoh agama, aparatur gampong, pendidik, dan seluruh lapisan masyarakat. Tantangan hari ini terlalu kompleks untuk ditanggung satu pihak saja.

Muharram mengajarkan bahwa peradaban adalah estafet panjang. Yang akan dikenang generasi mendatang bukan seberapa sering kita memperingati hijrah tapi sejauh mana kita menghadirkan semangat hijrah dalam kehidupan nyata.

Aceh Timur punya semua yang dibutuhkan. Kini saatnya bergerak.

*MULYADI, SH.I, M.Sos β€” Kepala KUA Kecamatan Indra Makmu, Kabupaten Aceh Timur*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button