Politik Dan Media Islami Membangun Narasi Positif Dalam Masyarakat

Idealnya Politik dan media Islam memiliki hubungan dan saling memengaruhi. Media penyiaran Islam berfungsi sebagai aplikasi untuk menyampaikan nilai-nilai politik yang sesuai dengan ajaran Islam, sekaligus membentuk opini publik.
Konteks demokrasi, media ini dapat meningkatkan partisipasi masyarakat, namun juga menghadapi tantangan dalam menjaga objektivitas dan etika jurnalistik di tengah dinamika politik yang berkembang.
Narasi positif dalam masyarakat merupakan langkah penting untuk menciptakan lingkungan yang baik dan konstruktif. Dalam konteks Islam, narasi positif dapat membantu umat untuk lebih memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama, sekaligus berkontribusi pada pembangunan sosial dan politik.
Ayat Alquran yang mendukung pentingnya membangun narasi dalam Surah Al-Hujurat 49:11:
βWahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalimβ
Ayat ini mengingatkan kita untuk saling menghargai dan menjunjung tinggi martabat satu sama lain, serta mendorong penghindaran dari perilaku negatif dan Setelah Allah menerangkan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara, ayat ini menjelaskan tuntunan agar persaudaraan itu tetap terjaga.
Wahai orang-orang yang beriman,Β janganlah suatu kaum, yakni kelompok pria, mengolok-olok kaum, yakni kelompok pria yang lain karena boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok, dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olokkan perempuan lain karena boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok.
Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dengan ucapan, perbuatan atau isyarat, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang dinilai buruk buruk oleh orang yang kamu panggil itu sehingga menyakiti hatinya. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk fasik setelah iman. Yakni seburuk-buruk panggilan kepada orang-orang mukmin adalah bila mereka disebut orang-orang fasik sesudah mereka dahulu disebut sebagai golongan yang yang beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, setelah melakukan kefasikan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim kepada diri sendiri dan karena perbuatannya itu maka Allah menimpakan hukuman atasnya.(quran.nu.or.id).
Media penyiaran Islam dapat berperan strategis dalam menyebarkan narasi positif dengan menekankan nilai-nilai kebersamaan, toleransi, dan saling menghormati. Melalui program yang edukatif dan inspiratif, media dapat membentuk persepsi yang lebih baik tentang isu-isu sosial dan politik, dengan tidak menegdepankan finansial sebagai tujuan utama.
Diantara narasi positif terkait politik pemilihan kepala daerah tercermin dalam semangat kolaborasi dan partisipasi aktif warga.
Banyak komunitas mengadakan forum diskusi untuk mendengarkan visi dan misi calon pemimpin, selain itu, kampanye yang bersih dan transparan, serta penggunaan media sosial untuk menyebarkan informasi, meningkatkan kesadaran politik masyarakat.
Dengan semua upaya ini, masyarakat tidak hanya berfokus pada pemilihan, tetapi juga pada pembangunan bersama, menciptakan suasana harapan dan kepercayaan untuk masa depan yang lebih baik, tampa melahirkan permusuhan yang berkepanjangan
Oleh: Dr. Muhammad Saleh., M.A
Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Lhokseumawe





